Indranesia’s Weblog



Onak Duri Bangsa Serumpun

Memang sudah takdir kalau Indonesia dan Malaysia itu harus hidup saling berdampingan. Karena letak geografisnya yang berdekatan maka kedua negara tersebut memiliki kesamaan dalam banyak hal. Tidak hanya bahasa nasionalnya saja yang berasal dari satu rumpun, tetapi juga orang-orangnya memiliki banyak kesamaan fisik. Terkadang kita tak dapat membedakan mana orang-orang yang berasal dari semenanjung dan mana orang-orang yang berasal dari pulau Jawa jika mereka sedang berkumpul. Tapi kita dapat mengenalinya jika mereka sudah berbicara dengan logatnya masing-masing (Melayu/Indonesia). Ya, bahasa yang dipakai di kedua negara tersebut memang memiliki logat yang berbeda meskipun berasal dari rumpun yang sama. Bahkan ada banyak kosa kata yang sama tetapi memiliki pengertian yang berbeda pula. Terkadang hal tersebut membuat bingung sebagian orang dari Indonesia atau Malaysia. Sebagai contoh adalah kata ‘seronok’ yang memiliki arti positip dalam bahasa Melayu (baca: senang) tetapi bermakna negatif dalam bahasa Indonesia (baca: vulgar). Begitu pun sebaliknya, tandas = habis/selesai (bhs Indonesia) dan tandas = toilet (bhs Melayu). Seringkali perbedaan arti sebuah kata menjadi bahan olok-olok yang menimbulkan ketegangan.

Ketegangan yang sering ditimbulkan melalui perdebatan sengit antara Indonesia-Malaysia adalah perkataan Indon yang sering digunakan oleh orang Malaysia merujuk kepada hal yang berhubungan dengan Indonesia, misalnya: orang Indon, negara Indon, budaya Indon, lagu Indon, dsb. Lihat disini. Konon, Indon adalah singkatan dari Indonesia yang mana orang Malaysia tidak bermaksud melecehkan Indonesia dengan sebutan itu. Sementara orang Indonesia merasa tak senang dengan sebutan tersebut yang terasa sangat merendahkan. Ada kesan seperti memanggil seorang budak (slave), layaknya memanggil ‘negro’ pada orang kulit hitam di Amerika. Meskipun kita sudah sering protes kepada orang Malaysia untuk menyebut Indonesia dengan benar, namun mereka tetap keukeuh dengan argumennya . Alih-alih mengkoreksi yang salah pada orang Malaysia mereka malah berdalih dengan alasan yang sama, yaitu sebutan Indon hanya sekedar singkatan saja. Sepertinya sifat malas orang Malaysia ini terbawa-bawa dalam menyebutkan nama negara. Apa sih susahnya menyebut Indonesia!? Kalau sebutan Indonesia dirasakan terlalu panjang, ya sudah sebut saja Indo atau WNI. Lebih mudah, bukan?

Selain sebutan Indon, sebenarnya masih banyak masalah krusial yang membuat orang Indonesia merasa kecewa terhadap sikap arogan Malaysia sehingga mengusik rasa keindonesiaan mereka. Mulai dari pemukulan wasit karate Donald oleh polis diraja Malaysia, klaim kebudayaan, illegal logging yang dilakukan oleh cukong dari Malaysia, pembakaran lahan hutan yang dilakukan oleh perusahaan dari Malaysia, berpindahnya patok perbatasan yang mengakibatkan Indonesia kehilangan wilayah hingga ribuan kilometer, dan juga masalah TKI. Masalah TKI ini yang paling banyak menyedot perhatian kedua negara.

Disamping masalah tersebut diatas, ada juga masalah perbedaan persepsi antara Indonesia dan Malaysia dalam mendefinisikan Melayu. Disini akan dibahas tentang Melayu ditinjau dari sisi etnis.

Menurut konsep Indonesia, Melayu adalah salah satu dari sekian ratus etnis yang ada di Indonesia yang tersebar di wilayah Jambi, Riau, dan Palembang. Etnis Melayu ini mempunyai kedudukan yang sejajar dengan etnis lainnya di Indonesia, seperti : Sunda, Jawa, Madura, Batak, Ambon, Bugis, dll.

Sedangkan menurut konsep pemerintah Malaysia, Melayu adalah orang-orang yang berdiam di wilayah Nusantara, yang mayoritas beragama Islam, menjalani tradisi dan adat istiadat Melayu dan berbicara bahasa Melayu. Yang termasuk orang Melayu di Malaysia adalah penduduk pribumi dari keturunan Minang, Jawa, Aceh, Mandailing, dll, dan juga pribumi lainnya seperti Iban, Kadazan, Melanau, dll.

Buat orang Indonesia, definisi Melayu dalam konsep pemerintah Malaysia ini sangat bias, karena memasukkan keturunan Jawa, Sunda, Madura, Batak, Bugis, dll kedalam etnis Melayu. Sedangkan dalam konsep Indonesia, Melayu hanya merupakan salah satu dari sekian ratus etnis yang ada di Indonesia. Jadi, Indonesia bukan Melayu. Satu tidak dapat mewakili semuanya. Sedangkan Indonesia dapat mewakili semua etnis yang ada di wilayah Indonesia ini, salah satunya adalah etnis Melayu tersebut. Tentu saja orang Jawa, Sunda, Madura, Bali, atau Sasak tidak mau disebut Melayu karena mereka bukan etnis Melayu, apalagi orang-orang Papua dan Maluku yang berasal dari timur Indonesia ini. Pendek kata, Indonesia bukan negara Melayu. Tetapi etnis Melayu yang ada di Indonesia masih serumpun dengan etnis Melayu (asli) yang ada di Malaysia.

Jadi disitulah letak perbedaan antara Indonesia dan Malaysia dalam mendefinisikan Melayu. Definisi Melayu dalam konsep Indonesia mempunyai arti yang sempit atau spesifik, sedangkan dalam konsep Malaysia mempunyai arti yang luas dan cenderung bias. Tidak heran kalau kesenian Jawa (wayang, keris, batik, reog) atau Sunda (angklung) yang berasal dari Indonesia pun dibilang budaya Melayu oleh Malaysia. Bingung nggak sih?

Ya begitulah…. Kedua bangsa serumpun ini sepertinya sedang menyimpan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Moga-moga saja kedua pemimpin bangsa tersebut bisa mencermatinya sebelum hal itu terjadi. Bagaimana pun perang bukan merupakan solusi terbaik, sedangkan hidup damai dengan jiran adalah anugerah terbaik.

Related Links:

Don’t Call Them ‘Indon’ (Myindo)

Sebab istilah ‘Indon’ tidak digemari (Utusan Malaysia Online)

Definisi Melayu (Wikipedia)

Kepala Polisi Malaysia Janji Pemukulan Wasit Indonesia Jadi Prioritas (ANTARANEWS)

Cukong Malaysia Danai ‘Illegal Logging’ (Dumai Pos Online)

Malaysia Pindahkan Patok Perbatasan (Sinar Harapan.co.id)


Tinggalkan sebuah Komentar

(wajib)

(wajib)



Atur penampilan komentar anda
Kembali ke Atas | Area teks Lebih besar | Lebih kecil