Penyanyi Cilik Era 70-an
Bagi anda yang pernah mengalami masa kanak-kanak di tahun 70-an tentu masih ingat nama-nama penyanyi cilik yang pernah populer di masa itu, sebut saja : Chicha Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Ira Maya Sopha, Yoan Tanamal, dll. Ketika itu diawali dengan munculnya Chicha – putri tertua Nomo Koeswoyo – dengan lagunya yang berjudul Helli. Chicha yang belum lagi genap berumur 6 tahun dengan pembawaannya yang riang langsung menjadi idola anak-anak se-Indonesia, dan lagunya langsung melekat di hati mereka. Saya masih ingat betul ketika dia muncul pertama kali di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di Indonesia. Ketika itu saya pun masih duduk di kelas 1 SD dan sangat mengagumi talentanya, membuat saya tak pernah absen untuk melihat penampilannya di TVRI. Selain lagu Helli yang riang itu, saya pun hapal lagu Kelinciku dan juga lagu-lagu lainnya yang saya sendiri sudah lupa judulnya. Singkatnya, saya begitu tergila-gila dengan penyanyi cilik satu ini.
Setelah kemunculan Chicha Koeswoyo yang berhasil merebut hati anak-anak Indonesia, bermunculan pula penyanyi cilik yang baru. Umumnya kemunculan mereka sangat berdekatan jaraknya. Dan sebagaimana halnya Chicha Koeswoyo, mereka masih menggunakan kepopuleran nama orang tua mereka, contohnya : Sari Koeswoyo, Helen Koeswoyo, Angga Koeswoyo, Adi Bing Slamet, Iyut Bing Slamet, Bobby Sandhora Mukhsin, Yoan Tanamal, Ari Ariyanto, Beno Benyamin, Fitria Elvi Sukaesih, Vien Isharyanto, dan Santi Sardi. Memang, tidak ada maksud-maksud tertentu dibalik kepopuleran nama orang tua mereka itu, maupun motif ekonomis atau agar cepat dikenal. Wajar-wajar saja mereka menggunakannya, toh mereka kan anaknya juga. Lagi pula orang tua mana yang tak bangga melihat anaknya menjadi terkenal dan dikagumi. Jika mereka terkenal, tentu nama orang tua mereka pun semakin terkenal. Tetapi ada juga beberapa penyanyi cilik yang tanpa disertai kepopuleran orang tua mereka, seperti : Dina Mariana, Diana Papilaya, Ira Maya Sopha, Sandra, dan juga Liza. Walaupun begitu, mereka semua tetap memiliki talenta yang mengagumkan.
Dengan banyaknya penyanyi cilik yang bermunculan, tidak lantas membuat mereka bersaing ketat satu sama lain. Mereka tetaplah anak-anak yang polos dengan keriangan mereka. Mereka justru diduetkan oleh pihak rekaman untuk menghasilkan album yang lebih bervariasi. Contoh album duet yang sukses pada saat itu adalah duet Adi+Chicha, Adi+Ira, Adi+Iyut, Adi+Diana, Adi+Fitria, dan Dina+Diana. Selain itu ada juga penyanyi cilik yang menghasilkan album Hari Natal dan Hari Lebaran. Umumnya perusahaan rekaman yang menaungi mereka adalah Yukawi, Remaco, dan Irama Tara. Ketiga perusahaan rekaman tersebut merupakan label company papan atas pada saat itu.
Kira-kira ada berapa ya jumlah penyanyi cilik era 70-an ini? Tak ada yang tahu pasti berapa banyak penyanyi cilik ketika itu. Menurut catatan perjalanan musik Indonesia, di masa itulah Indonesia memiliki begitu banyak penyanyi cilik. Sayang sekali perjalanan karir mereka kini sulit dicari jejaknya, karena pada masa itu sistem dokumentasi industri rekaman di Indonesia masih belum begitu maju seperti sekarang ini. Salah satu yang paling penting adalah media berupa kaset rekaman yang terpelihara. Ya, kaset rekaman yang berisi lagu-lagu mereka yang pernah populer pada saat itu. Dari situlah kita bisa menelusuri perjalanan karir mereka dari waktu ke waktu. Tanpa itu, apa yang akan dapat kita telusuri dan bandingkan. Sebagai contoh adalah perjalanan karir Heintje, mantan penyanyi cilik dari Belanda. Meskipun kini dia telah tua, tapi rekaman lagu-lagunya masih beredar dalam bentuk kaset maupun CD, dan terjual di seluruh dunia. Semua itu karena sistem dokumentasi industri rekaman di Belanda sudah sangat maju. Mungkin Indonesia perlu mencontoh hal seperti itu agar perjalanan karir penyanyi cilik di Indonesia bisa ditelusuri dari waktu ke waktu, dan tidak hilang begitu saja dengan bergantinya generasi. Bagaimana pun penyanyi cilik adalah aset bangsa yang juga harus diperhatikan kiprahnya.
Yang ingin mendengarkan lagu-lagu mereka, silakan klik disini.